Friday, 18 December 2009

Cerita Panjang si Tukang Jalan


 



 

Berawal dari sebuah kejenuhan yang semakin menjadi saat rentang waktu tak lagi bisa dibilang singkat dengan rutinitas kerja 24 jam di rumah majikan yang sangat monoton. Berada jauh dari sanak saudara dan dipisahkan samudera luas membentang adalah penyebab lain kejenuhan itu semakin menjadi. Sebuah perjalanan saya rencanakan untuk mencari setetes embun penyejuk hati yang kadang turut gersang dengan bergantinya musim di Hong Kong. Libur seminggu sekali yang menjadi jatah setiap Buruh Migran merupakan kesempatan untuk mencari pengalaman dan ilmu. Nikmat Allah yang memberikan kesempatan kepada saya belajar ilmu kehidupan sampai ke negeri China, meski status saya di Hong Kong bukan sebagai pelajar, melainkan sebagai buruh.

Adat budaya, bahasa dan agama di Hong Kong adalah pelajaran yang harus saya pelajari di awal saya sampai di Hong Kong pada 23 Agustus 2004. Berinteraksi secara langsung merupakan wujud dari ilmu yang dipraktekkan, lebih mudah dipahami, meski sekaligus membuat saya merasa tergerapap setiap kali hal baru itu saya jumpai. Teori selama di penampungan terutama tentang bahasa lebih sulit diterapkan karena banyak suku kata yang mirip pengucapannya namun berbeda artinya. Proses adaptasi terus berlangsung hingga sekarang. Ilmu kehidupan pertama yang saya peroleh di Hong Kong.

Pekerjaan yang setiap hari sama tanpa variasi yang seringkali menghadirkan rasa tidak kerasan dan ingin pulang adalah masalah yang harus bisa saya atasi. Menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan keluarga di kampung adalah salah satu penawar. Bertemu saudara setanah air di negeri orang merupakan cara lain untuk mengusir rasa jenuh yang mulai berlebihan. Dari pertemuan di hari libur inilah ilmu baru saya peroleh. Ilmu yang tidak akan saya peroleh dari bangku sekolah, yaitu ilmu kehidupan. Dari saudara setanah air yang telah banyak makan garam kehidupan, juga banyak pengalaman menjadi perantau. Masalah-masalah yang mereka alami baik itu dengan majikan maupun dengan keluarga yang mereka tinggalkan membuat saya semakin tahu tentang kehidupan. Masalah yang mungkin juga akan saya alami dan sedikit banyak saya mendapat ilmu bagaimana menghadapi dan mengatasinya berbekal dari pengalaman beberapa saudara seperjuangan. Subhanallah, keindahan silaturahmi memang membawa banyak manfaat.

Selama di Hong Kong saya bisa mendapatkan ilmu dari sesama manusia, baik itu dari majikan dan saudara setanah air yang mungkin tak akan saya dapatkan apabila saya tak melangkahkan kaki membulatkan tekad untuk menjadi perantau. Banyak buku yang bisa menjadi guru saya juga selama saya tinggal di kota Bunga Bauhinia ini, baik itu buku berbahasa Indonesia yang harus saya dapatkan dengan membelinya yang harganya dua kali lipat dengan harga asli di Indonesia atau juga buku-buku berbahasa Inggris yang banyak memenuhi rak-rak berjajar rapi di Hong Kong Central Library. Ilmu yang membuka wawasan saya.

Ternyata ilmu baru juga saya dapatkan karena tata letak kota. Hong Kong yang merupakan bagian dari negara maju membuatnya diberi sebutan Negara Beton, bisa anda bayangkan di sana sini gedung menjulang, bahkan saya kesulitan untuk menatap matahari tenggelam karenanya. Kerinduan kembali hadir. Rasa jenuh kembali menguasai jiwa. Mengunjungi taman-taman kota yang indah adalah langkah awal saya untuk mengusir jenuh itu. Kerinduan terobati dan tafakkur semakin mudah saya jalani, melihat keindahan ciptaan Allah dan belajar bersyukur serta terus berdzikir kepada-Nya seperti alam yang tiada lelah berdzikir kepada Allah dengan bahasanya. SubhanaLlah! Bermula dari taman kota buatan, akhirnya kaki saya tak lagi mampu ditahan untuk melangkah menyusuri pantai dan hutan. Berbekal informasi dari internet saya melangakah dengan penuh suka cita mengunjungi tempat baru yang jauh dari keramaian. Mengunjungi wisata alam yang indah terbentang di depan mata. Menyebut Asma Allah dan melafal pujian hanya kepada-Nya. Ilmu baru yang saya dapatkan, ilmu bersyukur dan merasa memerlukan bantuan Allah untuk semua hal dalam hidup saya, saya merasa sangat kecil dan tak berdaya ketika berada di tengah-tengah alam ciptaan Allah yang sangat luas dan sungguh indah. InnaLlaaha jamiil, wahuwa yuhibbul jamaal; Allah itu Maha Indah dan Allah mencintai keindahan.

SubhanaLlah walhamduliLlah begitu banyak ilmu yang diberikan Allah kepada saya, mengajari saya semakin dekat dengan-Nya.

5 comments:

  1. Ilmu ternyata bisa di dapatkan di mana saja. Teori dan praktek ternyata juga berbeda.
    kalau di lihat ternyata cukup lama juga marya sudah berada di sana..

    ReplyDelete
  2. HELLO MBAK MAR, SALAM KENAL YAH...
    MENYENANGKAN BISA BERKENALAN DENGAN ANDA, DARI JAUH DI RATAU..DI NEGERI ORANG...HONG-KONG, UNTUK MENCARI REZEKI DAN MAKNA KEHIDUPAN. SUNGGUH LUAR BIASA!

    SAYA YULINDA, TINGGAL DI JOGJA, BEKERJA SEBAGAI GURU TK DAN MASIH SAMBIL SEKOLAH MBAK. BTW, SAMPEAN HEBAT SEKALI BISA SAMPAI SANA, BISA NGEBLOG LAGI...WAH SALUT DECH, SEMOGA KUNJUNGAN PERTAMA INI AKAN TERUS MEMPERTAUTKAN KITA TERUS KE DEPAN, DALAM KOMUNIKASI LEWAT DUNIA MAYA YANG TANPA BATAS INI...

    OIYA, SELAMAT MENYONGSONG DATANGNYA TAHUN BARU, TENTUNYA HIRUK-PIKUNYA AKAN JAUH LEBIH SERU DI HONGKONG HE HE HE ... SEMOGA DATANGNYA TAHUN BARU TERSEBUT AKAN MEMBERIKAN HARAPAN DAN MIMPI BARU UTUK KITA SEMUA, AMIEN!

    OIYA, SELAMAT MENIKMATI HARI-HARINYA, SEMOGA SAMPEAN TIDAK TERJEBAK DENGAN KEBOSANAN RUTINITAS HARIAN DAN ALINASI KEBUDAYAAN KARENA SENDANG DI TANAH RANTAU.

    ReplyDelete
  3. Nita, benar :) terima kasih apresiasinya

    Mbak Yulinda, salam kenal kembali Mbak, maaf baru membuka lagi rumah penuh debu ini. Ijin jadi following Pelangi Anak ya, terima kasih banyak telah sudi berbagi dengan saya.

    ReplyDelete
  4. Benar, ilmu memang bisa kita dapatkan di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika tidur pun kita bisa bermimpi, danmimpi tersebut bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita.

    Konon, beberapa ilmuwan dunia yang populer, sering mendapat inspirasi temuannya lewat mimpi, luar biasa bukan?

    Oiya, salam kenal juga dari Jogja.

    ReplyDelete
  5. Menuntut ilmu itu sepanjang hayat dan tentunya tidak hanya berasal dari sebuah buku ....

    ReplyDelete